Wednesday, August 13, 2014

That Flower.

        Malam kemarin merupakan malam yang panjang dan tak luput dari tetesan makna bagi gw dan mungkin dia yang ada di sebelah sana. Sedikit satu atau dua patah kata yang gw ucapkan terasa begitu sangat sensitif, dalam, intim, dan mengeruk apa-apa saja yang ada di dalam pikiran gw. Well, it's not that weird what you think about it, but im feeling so melancholic last night. That night, was the worth night for me. I didn't know what happened, but it is let me to put some words that she will never forget it, I hope so..

        You said you were talking about regret, sorrow and anythings about it, and you had a remors from that. So let me repeat over and over again for you, then you can plant some of them in self

     Gw tersentuh ketika mendapatkan cerita analogi dari seorang teman tentang kegundahan seseorang dalam hidupnya. Everythings. Lu tau cerita tentang seseorang yang diberikan kesempatan untuk jalan lurus disebuah taman dan mengambil setangkai bunga yang menurutnya paling baik untuk dia miliki dalam hidupnya? Mungkin sebagian besar orang udah pernah mendengar cerita ini berulang kali, begitu juga dengan gw. Tapi cerita ini bukan sekedar cerita fiksi bagi gw, cerita ini punya makna yang amat sangat dalam. Dan gw harap semua orang di luar sana tahu betul apa makna dari cerita ini. And, let me to tell you a story from the heart..

--------------------------------

         Kisah di sebuah taman yang sangat luas. Dua orang duduk berdampingan. Satu di antaranya adalah tetua penasihat yang sangat bijak, a wiseman to be. Dan di sebelahnya, bersandar anak dari seorang pengolah ladang yang memiliki impian sangat tinggi. Seorang anak yang memiliki pengetahuan luas akan bunga dan segala jenis tanaman. Seorang anak biasa, menjalani kehidupannya penuh dengan lika liku kehidupan, kebahagiaan, kegalauan hidup, dengan impian-impian nya yang tinggi. Seorang anak yang sedang beranjak dewasa. Itu kata yang tepat untuk seorang anak yang sedang menyandarkan punggungnya pada sebuah bangku. Seorang anak paruh baya yang akan menentukan jalan pilihan hidup. Hidup untuk mati atau mati untuk hidup. Anak itu bertanya-tanya kepada seorang penasihat di sebelahnya, "Yang mulia, bagaimana aku bisa menentukan jalan hidupku? Aku merasa sudah cukup umur, tapi tak kunjung dewasa."

        Seorang penasihat tertegun. Melihat raut muka sang anak melontarkan pertanyaan tersebut, ia iba bagaimana seorang yang sedang beranjak dewasa tak dapat menentukan hidupnya. Penasihat tersebut melihat kegundahan yang ada di dalam seorang anak itu. Hanya ada kegelisahan dan kegelisahan memenuhi hatinya. Sampai - sampai belenggu pun tak dapat keluar dari lingkarannya. Kemudian penasihat itu berdiri, menyimpulkan tangannya di belakang, dan berjalan di pinggiran taman, sambil berkata, "Kemarilah nak, akan kutunjukkan sesuatu kepadamu." Anak itu bingung, akan kemana ia dibawanya pergi. Lalu mereka berjalan berdampingan di pinggir sepanjang bentangan taman. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah gerbang kecil taman tersebut.

            "Inilah gerbang kehidupan mu, nak." Penasihat melontarkan senyum kepada anak tersebut.

        Anak itu bingung kembali, bertanya kepada sang penasihat, "Apakah aku harus mengikuti jejak terdahuluku? Mengolah ladang?" "Bukan itu yang aku inginkan, nak." jawab sang penasihat. Lalu penasihat berjubah hitam itu terdiam, kemudian mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan pada anak tersebut.

         "Lihat di depan matamu. Ada sangat banyak bunga yang tumbuh dengan subur dari dalam tanah, wanginya sangat harum, semerbak hingga engkau akan lupa dengan dunia mu sendiri. Masuklah ke dalam taman, berjalanlah sampai menuju gerbang yang satunya lagi di ujung taman. Jangan pernah berbalik. Dan jangan lupa, ambil satu bunga untukku, yang menurut hatimu itu yang terbaik. Ingat, jangan pernah berbalik."

            Hal itu terlihat mudah saja bagi seorang anak yang sedang beranjak dewasa, dengan nafsunya yang sangat tinggi dan menggebu-gebu, dia akan segera masuk ke dalam taman, dan memetik bunga yang menurutnya bagus untuk dirinya. Hanya jalan setapak yang dia lihat sepanjang mata memandang ke depan, ini akan mudah baginya untuk memetik bunga yang indah, pikirnya.

             Belum genap 6 meter melangkahkan kaki, matanya langsung tertuju pada satu bunga yang berada di sembulan bunga lainnya. Bunga itu tak begitu mencolok, warnanya tak begitu menarik, wanginya tak begitu harum, tetapi dia tumbuh dengan subur dan alami di antara bunga lainnya. Lalu anak tersebut memalingkan matanya kembali ke depan dan melanjutkan perjalanan. Pikirnya, bunga itu bukanlah bunga terbaik untuknya, mungkin masih ada buga yang lebih indah dan bagus di depan sana. Sepanjang perjalanan dia begitu resah tidak mendapatkan bunga yang terbaik untuknya. Hingga sampai akhir perjalanan menuju gerbang keluar, ia menemukan bunga yang sangat mencolok, warnanya indah, wanginya sangat harum, kelopaknya sangat indah, membuat dirinya ingin sekali memetik bunga itu. Dan akhirnya, tanpa berpikir panjang, ia memetik bunga tersebut dan keluar dari gerbang menemui sang penasihat sambil menciumi harum bunga tersebut.

            Sambil terlonjak-lonjak ia berikan bunga terbaiknya untuk sang penasihat. Tapi tak lama kemudian matanya terbelalak dan kaget. Bunga yang ia bawa tadi ternyata telah layu. Tangkainya berlumuran getah yang membuat kulit tangannya panas terbakar. Anak tersebut langsung membuang bunga tersebut kuat-kuat ke dasar tanah. Ia menangis kesakitan.Tangannya rusak oleh getah. Sang penasihat hanya bisa tersenyum dan berkata, "Apa yang kuminta?". "Kau bilang untuk memetik bunga yang indah menurutku!" bentak sang anak.

       Keadaan menjadi hening dengan rintihan kesakitan anak itu. Lalu, sang penasihat melanjutkan pembicaraan, "Sudahkah kamu kehilangan akalmu, nak? Seberapa tanggap kau mencerna permintaanku? Aku ingin bunga yang terbaik menurut hatimu. Bukan matamu. Bukankah engkau seorang anak pengolah ladang terbaik di desamu? Engkau memiliki banyak pengetahuan mengenai jenis tanaman dan bunga. Mengapa begitu terburu - buru mengambil keputusan? Tidakkah kamu telah membodohi dirimu sendiri? Merendahkan dirimu sebagai anak pengolah ladang terbaik." matanya berbinar dengan tajam menatap sang anak. Anak itu hanya terdiam, menekukkan lututnya pada tanah, menundukkan kepala, meneteskan air mata sambil memegangi tangannya yang terbakar kesakitan.

            Sang penasihat berjalan mendekati anak itu dan merangkul pundaknya, aku memberikan engkau satu kesempatan lagi. Satu kesempatan. Dan kau tak akan melanggar permintaanku, bisiknya. Kemudian anak tersebut kembali menuju gerbang dengan teratih - tatih melangkahkan kakinya. Saat masuk ke gerbang, dia langsung mengambil bunga yang menurut hatinya indah saat pertama kali masuk tadi, kemudian jalan menuju gerbang keluar untuk menemui sang penasihat. Dia berlari-lari menuju tempat sang penasihat. Tapi tak ada satu orang pun yang dia temui di tempat itu. Hanya kekosongan yang ada. Pohon yang berdesir tersentuh hembusan angin, rumput-rumput yang menari seirama, dan harum bunga yang ia petik. Harum bunga yang kian semerbak baunya.

        Anak itu pulang dengan tergopoh - gopoh membawa bunga harum yang tumbuh dengan subur yang kini berada di tangannya. Sesampainya di rumah ia merawat bunga tersebut dalam vas bunga yang sangat cantik, hingga bunga tersebut terlihat sangat indah dan cocok berada pada vas itu.

        Keesokan harinya, ia kembali melihat tangannya, luka bekas bunga beracun tersebut telah hilang, tetapi rasa sakit yang ia rasakan tidak pernah hilang. Tidak akan pernah hilang karena kebodohannya sendiri. Ketika sore hari tiba, ia duduk kembali di bangku pinggir taman, menunggu-nunggu datangnya seroang penasihat nya sambil membawa bunga yang berada dalam vas. Berjam-jam dia menunggu dan menunggu, sampai akhirnya ia menyadari sesuatu, bahwa seorang penasihat tersebut adalah hatinya sendiri.


~Sekian.




Sunday, June 22, 2014

22.06.2014

The time is roll on, sometimes..
This is the crushed day in my life
Then i think just a moment
Is the world just ended?

     This is the dumbass, stupidest, foolest day ever.
     Someone stab me please in the deep of my heart.. 

#galaumaksimal.

Metamorfosis

Kamu tahu? 
Seekor serangga yang hinggap pada pucuk daun itu?
Dia adalah kupu- kupu.
Mengepakkan sayapnya di pelupuk matahari.
Merona jingga saat senja.

Kurasa dia kupu-kupu yang baru bebas.
Bebas dari keterpurukannya.
Bebas dari belenggunya.
Menggunakan sisa hidupnya dari kekangan krisalis
Hanya untuk kebaikan dan kebaikan

Aku termenung sejenak
Cinta apa yang membuatmu seperti itu?
Tiada yang tulus kepadamu.
Seleksi alam akan membunuhmu.

Engkau makhluk penuh perjuangan
Makhluk penuh perubahan.
Makhluk tak mengenal pamrih
Mungkin Tuhan menciptakan kau
dari pemikiran seorang manusia

Negara ini butuh kupu-kupu
Keluarga ini butuh kupu-kupu
Aku butuh seorang kupu-kupu.
Kamu.

Aku senang perubahan
Aku senang metamorfosis
Aku ingin menjadi kupu-kupu
Tapi sayang,
Kamu belum menjadi kupu-kupu.

Sunday, May 11, 2014

Senja Semu

Pernahkah kamu sadar?
bahwa senja kala itu
sesungguhnya benar - benar indah
senja yang hanya satu kali
kamu temui dalam hidupmu


Ingatkah kamu?
untuk kali pertama
kamu bertemu dengannya
dia tersipu malu padamu
dengan senyum simpulnya


Di persimpangan teduh itu
kamu hanya bisa berkhayal
tetapi tidak, ini nyata
dunia tak sefana itu
tetapi tidak, ini nyata


Jam berdentang sangat kencang
Sesaat kamu terjaga 
Kembali ke persimpangan
Hanya daun berguguran
tersisa menginggalkan 
kisah manis tak terlupakan


Kamu kembali
Dan berkaca
ada ciuman merah
yang menempel erat
pada pipi manismu.


Sungguh
Senja itu
takkan tergantikan.
Senja itu
Kembalilah.

Don't Go Away

          Akhir - akhir ini gw lagi seneng  banget dengerin lagunya Oasis yang judulnya Dont Go Away, gak ngerti kenapa, tiba - tiba aja maknanya jadi dalem banget hahaha..

          Just explain yourself, how you feel..

Cold and frosty morning, there's not a lot to say
About the things caught in my mind.
And as the day was dawning my plane flew away
With all the things caught in my mind.

And I wanna be there when you're coming down
And I wanna be there when you hit the ground

So don't go away, say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day, in the time of my life
Cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right

Me and you, what's going on?
All we seem to know is how to show
The feelings that are wrong.

So don't go away, say what you say
Say that you'll stay
Forever and a day, in the time of my life
Cause I need more time,
Yes, I need more time
Just to make things right

Yes, I need more time
Just to make things right

Yes, I need more time
Just to make things right

So don't go away.

For people far far away right there who ever being in my life.

Thursday, May 16, 2013

Friday, May 3, 2013

You Always Be My Second Home

      Shit happens.

     Udah tiga bulan lebih gw ngendok di kamar kosan gw yang sangat super ini. Pada hari itu, 20 April 2013, gw melaksanakan kebiasaan ritual lama, bangun kesiangan lagi, padahal bimbingan udah mulai dari satu setengah jam yang lalu dan telah usai. Fuck. Nyesel juga rasanya bangun kesiangan mulu, dimana orang - orang sudah mencari rejeki, mengerjakan ratusan soal - soal ujian, sedangkan gw masih bermalas - malasan di atas matras yang empuk ini dan tak satu soal pun tersentuh hari itu. Haaaa gw pusing bangun siang. Tapi ga bisa. Ga bisa bangun pagi. Susah banget. Mata gw rasanya seperti di lem Super Glue. Udah melek dikit, buka hape ngecek jam, kemudian mata gw merekat lagi dengan indahnya. Otak gw udah lumayan lelah kalo begini terus kerjaannya. Gw pingin pulang ke Bandung. Ketemu orang tua, kakak gw, bersilahturahmi dengan mereka dan memberitahu seberapa jauh perjuangan gw sampai saat ini. Gw udah punya rencana sih untuk pulang bulan ini, tepatnya tanggal 28 April nanti. Emang nih, tadinya gw kepingin balik tanggal 28 April sekaligus menghadiri lamaran kakak sepupu gw yang sekarang lagi kerja di Bali. Tapi, ketika gw telat terbangun hari itu saat ingin datang bimbingan, tiba - tiba aja gw menghela napas dengan leganya. Temen gw SMS. Tulisannya, "Ga, hari ini ga ada les, masuk lagi hari rabu." What a wonderfull awakening this afternoon guys. Yang tadinya panik, suram, dan tak punya masa depan (suram dewa), langsung riang gembira dengan kabar temen gw itu. Lalu gw berpikir, kenapa gak pulang hari ini aja? Toh bisa lebih lama, libur lima hari, dibandingkan pulang tanggal 28 yang paling cuma tiga hari dua malam.

    Akhirnya gw pun tancap gas, gw langsung menghubungi orang tua gw di sana untuk memberitahukan bahwa anak bungsunya yang suka cari masalah ini ingin pulang ke Bandung pada hari itu. Orang tua gw pun merenspon rencana kepulangan gw pada hari itu dengan baik, gw harap mereka menerima kedatangan gw dengan senyuman seperti dulu gw berangkat kesini dan semuanya berjalan lancar, karena jujur aja gw pulang dengan tangan kosong. Hanya ingin melepas rindu seorang anak kepada ayah dan ibundanya, dan tentu saja saudara kandungnya. Siang itu, gw bersemangat. Gw langsung mandi dan berniat nyari tiket Lodaya malam untuk pulang nanti malam di Stasiun Tugu Jogjakata setelah makan siang di warung EMB deket kosan. Gw gak ngerti makanan di warung EMB ini tiba - tiba aja jadi enak, lauk sayur kesukaan gw yang tadinya ga pernah dimunculin lagi, dimunculin lagi hari itu. Hmmm, siang itu perut gw kesenengan. Setelah makan, gw pun langsung melajukan motor gw ke arah Stasiun Tugu Jogja melewati Jalan Mangkubumi, jalan favorit gw, karena setiap lewat jalan ini, feel Jogjanya terasa banget buat gw, tanya kenapa. Gw pun buru - buru mengendarakan motor gw ke sana karena gw melihat langit tampak mendung berselimuti awan yang sangat tebal. Sesampainya di stasiun gw bingung. Gw mau beli tiket untuk pergi atau pulang pergi sekalian. Gw galau. Kalau beli tiket untuk pulangnya hari ini bisa lebih murah Rp 80.000,-. Tapi kalo belinya hari ini juga, gw takutnya rencana kepulangan gw berubah dengan mundurnya hari kepulangan gw. Gw galau lagi. Setelah berlama - lama galau gw memutuskan untuk beli tiket pulang pergi akhirnya gw memutuskan untuk beli tiket pulang dan pergi sekalian. Gw jalan ke loket pembelian tiket. Gak kayak di Bandung, di sini loket penjualan dan  loket reservasi tiket dipisahkan, sehingga pembeli tidak harus menulis awal dan tujuan stasiun di secarik kertas borang, tapi  langsung mengantri di loket penjualan. Di sini semua rencananya berubah. Gw yang tadinya tidak tahu dengan informasi tersebut, mengantri di loket penjualan dan akhirnya gw gak jadi beli tiket untuk pulang lagi ke sini. Weellll, kayaknya gw emang direncanain untuk beli tiket pulangnya nanti.

      Gw lega udah dapet tiket buat nanti malem. Gw langsung tancapkan gas lagi ke kosan dan bersiap - siap untuk packing. Tapi di tengah - tengah perjalanan ke kosan, tiba - tiba aja hujan turun dengan derasnya sampe tangan gw rasanya tertusuk - tusuk. Untungnya gw bawa jas ujan tapi gak bawa celananya, kalo ga bawa dua - duanya, tamat lah sudah nasib tiket di dalam tas kecil slempangan gw ini. Sampe di kosan gw buru - buru ngejemur jas ujan, celana jeans gw yang basah kena hujan, dan langsung mempacking semua kebutuhan yang akan gw bawa pulang ke Bandung. Sial banget, padahal itu celana pengen gw pake nanti, karena gw cuma punya dua celana jeans yang pewe, dan itu paling pewe, walaupun robek di bagian dengkul sih. Gw cuma pulang bermodalkan tas eiger dailymotion yang cukup untuk membawa gw sampai ke Bandung dengan mendesak - desakan baju dan segala macem barang yang gw butuhin. 

      Setelah semua beres, gw habiskan waktu gw untuk menunggu keberangkatan kereta api jam tujuh malem dengan meneruskan nonton film Band of Brothers episode 8 yang baru aja gw download tadi malem dari keseluruhan 10 episode. Ini bener - bener film perang yang menurut gw bagus banget jalan ceritanya, beda dari film - film perang lainnya, film perang besutan HBO dengan salah satu sutradaranya Tom Hanks ini menitik beratkan pada cerita masing - masing tokohnya, bukan dari segi action, walaupun actionnya juga mantep sih. Gw dari dulu suka banget film perang, malah dulu waktu kecil sempet mikir pingin jadi tentara, lari-lari bawa senjata, sambil bakul tas ransel gede. Hahaha imajinasi waktu gw kecil emang lebih keren dibandingin sekarang. Sampai film berakhir dan bertepatan dengan azan maghrib yang berkumandang  dari Masjid Raya Pogung, gw pun menunaikan ibadah solat magrhib di kosan. Waktu menunjukan pukul setengah tujuh, gw buru - buru lagi ingin menuju stasiun lebih cepat agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan, seperti kemacetan jalan yang tidak terduga tentunya, apalagi itu malem minggu, dimana orang - orang yang lagi pacaran berkoar - koar menunjukan kemesraanya di jalanan. Kayaknya hari itu, di jalan gw paling beda sendiri, orang - orang bonceng cewek di jok belakangnya, gw bonceng buntelan tas segede gaban menuju stasiun.

        Di stasiun gw cuma bengong. Jalan kesana kemari tanpa arah menunggu datangnya kereta api Lodaya malem sambil sesekali nyari WC laki - laki, karena sedari tadi gw cuma liat WC prempuan, sedangkan gw udah kebelet banget mau kencing. Di sana juga ada beberapa keluarga asli sunda yang mungkin baru pergi berlibur ke Jogja dan pada saat itu juga mereka sedang menunggu kereta Lodaya malem. Gw ngerti mereka orang asli Bandung karena logat bicara kepada sesama saudaranya yang menggunakan aksen sunda dengan sangat kental. Orang yang bukan asli orang sunda tapi udah lama tinggal di bandung will be not the same, man. Setelah berjalan kesana kemari akhirnya gw nemu juga WC laki - laki, dia ada di balik gedung tempat nunggu jalur 6 ternyata. Rambut gw yang setengah gondrong berantakan gak beraturan alias lagi awkward stage (tingkatan dalam penggondrongan) ini jadi sedikit annoying dan jadi perhatian orang, disangka gw gembel stasion kali.

      Akhirnya kereta jurusan Jogjakarta - Bandung pun datang dengan gagah nya di jalur 6. Gw segera bergegas masuk ke gerbong eksekutif 4 sesuai yang tertera dengan tiket. Saat gw masuk, tenyata gerbongnya sepi banget, setengahnya pun ga keisi. Pantesan aja gw dapet tiketnya gampang hari itu. Lagian juga gw dapet gerbongnya paling belakang alias gerbong paling terakhir pada saat itu. Hampir semua orang yang duduk di gerbong 4 sendiri termasuk gw, cuma beberapa orang saja yang duduknya berpasangan. Enaknya gerbong sepi gini nih, bisa tidur selonjoran. Bahkan di sebelah gw ada orang yang tidurnya tidak beraturan. Kepala ditidurkan di dekat jendela, kaki menjuntai keluar ke arah sisi kursi, membuat para attendant sedikit terhalangi ketika berjalan melewati gang.

      Kereta pun akhirnya berangkat tepat pada pukul 19.00 WIB. Kereta biasanya lebih tepat waktu dibandingin pesawat yang kadang suka ngaret keberangkatannya. Gw yang sepanjang perjalanan tidak bisa tidur karena habitual lama alias insonmia ini memaksa gw untuk tetap terus terjaga sampai larut malam dan menjelang pagi. Perut gw keroncongan. Gw belum makan malem sejak berangkatnya kereta ini. Tapi dari kejauhan tiba - tiba gw ngeliat seorang wanita dengan paras yang cantik menghampiri masing - masing kursi yang dihuni oleh penumpang. Ternyata dia seorang train-attendant yang sedang menawari makan malam kepada penumpang malam itu. Gw lega, akhirnya ada yang nawarin makanan, kayaknya malem itu perut gw kritis banget. Haha, gw emang gampang laper di area dengan suhu yang agak dingin. Makannya di bandung gw lumayan subur, tapi di Jogja gw kering kerontang. Mbak train-attendant pun akhirnya nyampe juga di tempat kursi gw dan dengan hangat menawarkan gw menu makanan yang ada. Ternyata mata gw ga salah, dia emang cantik bgt. Apalagi raut wajahnya yang mengharuskan dia tersenyum terus ketika berpapasan dengan penumpang, hahaha dipikir - pikir ga capek apa tuh ya urat pipinya. Sang train-att pun akhirnya pergi meninggalkan gw setelah gw selesai memesan nasi goreng dan nu green tea dingin, makanan yang paling cepet dan gampang bikinnya, jadi cepet datengnya. Malam itu perut gw tertidur pulas, tapi tidak dengan mata gw, mata gw tetap terjaga mengawasi orang - orang sekitar dan setiap attendant - attendant yang lewat tanpa ada maksud apapun. Kadang gw menerka - nerka apa yang sebenernya para penumpang ini rasakan, kemana tujuan mereka, dan habis apakah mereka? Apakah ada yang sedang gembira? Atau malah ada yang sedang dilanda kesedihan yang sangat berat?. Terlalu banyak manusia - manusia di sini sampai gw rela - rela memikirkannya padahal itu gak penting. Gw saking gak ada kerjaannya sampai berpikiran seperti itu. Makanan gw pun datang dan gw habiskan dengan cepat lalu membayarnya ketika saatnya di tagih. Seiring dengan lalu lalang nya attendant ini di gang, gw jadi teringat akan seseorang yang sejak dari dulu gw kenal dari kejadian tidak terduga sampai akhirnya dia menjadi salah satu flight-attendant di maskapai itu. Seseorang yang dulu sempat gw sayangi, seseorang yang pernah bernaung di hati gw, seseorang yang pernah selalu mengisi hari - hari gw, seseorang yang ...   ah terlalu banyak dan sakit untuk diingat. Dulu gw pernah sayang sama dia, dan kita saling mengetahui akan hal itu. Tapi suatu keadaan memaksa gw dan dia untuk tidak menjadi satu. Dan gw mengerti maksudnya...

       Di sepanjang perjalanan, gw tetap terjaga di keheningan malam, hanya mendengar rentetan suara baja yang bergesekan dengan roda kereta api, penumpang yang saling berbisik berbicara, suara pintu gerbong yang bergeser karena goncangan, dan suara napas gw sendiri. Setiap attendant yang lewat, gw terus teringat akan orang yang pernah gw sayangi dan tidak terbalaskan itu. Sambil mengambil selimut di kantong kursi dan menyelimuti tubuh, gw selonjorkan kaki gw di pijakan kaki di sebelah kursi gw sambil mengenang masa - masa indah itu. Masa - masa rindu. Masa - masa pilu. Masa - masa bahagia. Masa - masa yang cuma gw dan dia yang tau, titik.

      And, by the way, good bye Jogja, you always be my second home. 




     
 
     Tulisan ini gw buat karena baru aja kemarin malam setelah sekian lama, dia mengingatkan gw pada hal ini.
written @kosanKaliurang, Jgk